Terlahirnya Kembali Sang Juara Sejati

Satu pertandingan besar yang ditunggu-tunggu banyak penikmat sepakbola akhirnya usai. Final Liga Champions 2009 di Roma yang berakhir dengan memaksa Manchester United mengakui kekalahan dari sang jawara dari Catalan, Barcelona dengan skor 2-0. Pertandingan ini sekaligus menjadi rekap yang sempurna bagi perjalanan Barca di musim 2008/2009.

Konsisten dengan kata-katanya untuk tetap mempertahankan gaya menyerang di Final, Guardiola berhasil membawa anak-anaknya untuk membongkar pertahanan Man.Utd dalam pertandingan itu. Dengan formasi 4-3-3, secara jenius Guardiola men-switch posisi Lionel Messi dan Samuel Eto’o, malam itu Messidona banyak bermain di depan tengah, walau acap kali dia turun untuk berperan sebagai penyerang lubang yang membuka ruang bagi Eto’o yang dipindahkan ke posisi natural Messi di wing kanan, dan Henry di wing kiri. Eksperimen di lini depan ini bahkan sudah terasa hasilnya di menit awal pertandingan saat Eto’o mencetak gol yang menghanyutkan dengan diawali oleh kreasi pahlawan Blaugrana di semi final Andres Iniesta yang memberikan umpan terukur sehingga Eto’o mampu menaklukan jala gawang MU setelah melewati Nemanja Vidic dengan determinasinya.

Setelah gol pertama, pertandingan praktis menjadi semakin di kontrol Barca, disini saya harus mengangkat topi untuk Barca, dimana lini tengah mereka sangat solid dan kreatif sehingga membuat Manchester United kehilangan touch dalam mengatur permainan.

Xavi dan Iniesta membuat segalanya terlihat ringan bagi Barca, mereka berlari, mengumpan, membuka ruang, menutup ruang, dan menjelajah lapangan dengan sempurna malam itu, seperti yang mereka selalu berikan di sepanjang musim. Xavi yang lebih banyak berperan sebagai playmaker ini juga memberikan satu assist sempurna bagi Messi di babak kedua, sedangkan Iniesta selain memberikan assist bagi gol pertama juga memberikan banyak aksi-aksi yang membahayakan lini pertahanan MU. Terlebih lagi, Sergi Busquets yang di plot sebagai jangkar juga memainkan tugas nya dengan sempurna, ia menutup pergerakan-pergerakan gelandang MU, sekaligus memberikan sentuhan-sentuhan yang tak kalah apik dengan dua seniornya di lini tengah, Xavi dan Iniesta.

Apa yang di peragakan oleh lini tengah ini juga didukung oleh 3 striker yang magis dan 4 defender yang sangat kokoh dalam bertahan, dan menyerang! Ya, mereka memainkan peran yang lebih dari signifikan bagi seorang defender untuk menyerang, tak jarang kita melihat seorang Pique atau Yaya Toure melakukan manuver-manuver di tengah, dan 2 Full back yang sangat telaten dalam menyerang dan bertahan.

Tim juara sejati telah terlahir kembali, memiliki karakter, ideologi permainan, determinasi untuk menang, pemain yang hebat, pelatih yang hebat, kultur sepakbola yang dijunjung tinggi, dan fans yang luar biasa. melihat pencapaian mereka musim ini seluruh dunia akan mengakui hasil treble-winner sebagai satu hal yang pantas bagi mereka.Selamat Pep! Selamat Messi! Selamat Barca!

Inggris, Gerrard, dan Lampard

Gerrard dan Lampard

Gerrard dan Lampard

Kehebatan Steven Gerrard dan Frank Lampard tidak bisa disangsikan lagi, 1 gelar juara dan runner-up Liga Champions yang ditorehkan The Reds pada dinasti Rafa Benitez adalah bukti kesaktian Gerrard, gelandang kesayangan publik Anfield yang menjalani karier sepanjang hidupnya di Liverpool. Sedangkan runner-up Liga Champions dan Premier League musim lalu, The Blues Chelsea, mengandalkan pemain yang pernah merumput dan besar bersama West Ham United, Frank Lampard.

Kedua pemain andalan di klubnya masing-masing ini seringkali disebut gelandang yang bertipe serupa, sehingga konon kehadiran keduanya di timnas Inggris tidak bisa membuat duet gelandang yang apik dalam formasi konvensional Inggris, 4-4-2. Formasi ini sangat sering digunakan di era Sven Goran Eriksson dan Steve McLaren yang disebut-sebut gagal membawa St.George Cross menuju penampilan yang optimal. Mereka mulai berpasangan sebagai punggawa timnas pada kualifikasi Euro 2004, awalnya seperti tidak ada masalah, namun lambat laun duo central midfielder ini mulai disebut-sebut tidak sehebat saat bermain di klub.

Lampard dan Gerrard selalu di plot sebagai dua gelandang tengah yang mobil, dan bergantian untuk menyerang dan bertahan, suatu teori yang sangat bagus, kita bisa membayangkan betapa kuatnya lini tengah Inggris, namun pada pengaplikasiannya pada medio 2004-2008 kita seringkali tidak melihat adanya kerjasama antara kedua pemain ini, mereka seperti mencari ruang yang sama, sehingga tak jarang pergerakannya berbenturan. Dan tak jarang pula kita melihat kedua pemain ini menunggu terlalu lama, mungkin mereka takut apakah mereka aman untuk maju, dan belum yakin bahwa mereka tidak meninggalkan ruang kosong di pos gelandang bertahan, yang akhirnya berujung kedua pemain ini hanya berdiri di belakang, dan mengakibatkan kekurangan efektifitas penyerangan Inggris. Lampard dan Gerrard acap kali juga berbenturan dengan second striker Inggris Wayne Rooney, yang sering mencari ruang di flank kiri dalam.

Pada era Capello, formasi 4-4-2 mulai digantikan dengan 4-3-2-1 atau 4-2-3-1, Capello sering membiarkan Gerrard berkreasi dan meninggalkan pertahanan, dan Lampard sebagai box to box midfielder sesuai perannya di Chelsea, lalu mereka di topang oleh satu lagi gelandang tengah sebagai holding midfielder, yang berperan seperti Esteban Cambiasso di Inter, atau Marcos Senna di Timnas Spanyol, sayangnya pos ini belum menemukan pemain yang pas, masih terjadi rotasi antara Owen Hargreaves, Carrick, Jermaine Jenas, ataupun Gareth Barry. Taktik ini terlihat cukup bagus, semoga para gelandang tanah Britania ini bisa cepat menemukan sentuhannya. Kalau tidak, target semi-final di Afrika akan hanya menjadi mimpi belaka.