Inggris, Gerrard, dan Lampard

Gerrard dan Lampard

Gerrard dan Lampard

Kehebatan Steven Gerrard dan Frank Lampard tidak bisa disangsikan lagi, 1 gelar juara dan runner-up Liga Champions yang ditorehkan The Reds pada dinasti Rafa Benitez adalah bukti kesaktian Gerrard, gelandang kesayangan publik Anfield yang menjalani karier sepanjang hidupnya di Liverpool. Sedangkan runner-up Liga Champions dan Premier League musim lalu, The Blues Chelsea, mengandalkan pemain yang pernah merumput dan besar bersama West Ham United, Frank Lampard.

Kedua pemain andalan di klubnya masing-masing ini seringkali disebut gelandang yang bertipe serupa, sehingga konon kehadiran keduanya di timnas Inggris tidak bisa membuat duet gelandang yang apik dalam formasi konvensional Inggris, 4-4-2. Formasi ini sangat sering digunakan di era Sven Goran Eriksson dan Steve McLaren yang disebut-sebut gagal membawa St.George Cross menuju penampilan yang optimal. Mereka mulai berpasangan sebagai punggawa timnas pada kualifikasi Euro 2004, awalnya seperti tidak ada masalah, namun lambat laun duo central midfielder ini mulai disebut-sebut tidak sehebat saat bermain di klub.

Lampard dan Gerrard selalu di plot sebagai dua gelandang tengah yang mobil, dan bergantian untuk menyerang dan bertahan, suatu teori yang sangat bagus, kita bisa membayangkan betapa kuatnya lini tengah Inggris, namun pada pengaplikasiannya pada medio 2004-2008 kita seringkali tidak melihat adanya kerjasama antara kedua pemain ini, mereka seperti mencari ruang yang sama, sehingga tak jarang pergerakannya berbenturan. Dan tak jarang pula kita melihat kedua pemain ini menunggu terlalu lama, mungkin mereka takut apakah mereka aman untuk maju, dan belum yakin bahwa mereka tidak meninggalkan ruang kosong di pos gelandang bertahan, yang akhirnya berujung kedua pemain ini hanya berdiri di belakang, dan mengakibatkan kekurangan efektifitas penyerangan Inggris. Lampard dan Gerrard acap kali juga berbenturan dengan second striker Inggris Wayne Rooney, yang sering mencari ruang di flank kiri dalam.

Pada era Capello, formasi 4-4-2 mulai digantikan dengan 4-3-2-1 atau 4-2-3-1, Capello sering membiarkan Gerrard berkreasi dan meninggalkan pertahanan, dan Lampard sebagai box to box midfielder sesuai perannya di Chelsea, lalu mereka di topang oleh satu lagi gelandang tengah sebagai holding midfielder, yang berperan seperti Esteban Cambiasso di Inter, atau Marcos Senna di Timnas Spanyol, sayangnya pos ini belum menemukan pemain yang pas, masih terjadi rotasi antara Owen Hargreaves, Carrick, Jermaine Jenas, ataupun Gareth Barry. Taktik ini terlihat cukup bagus, semoga para gelandang tanah Britania ini bisa cepat menemukan sentuhannya. Kalau tidak, target semi-final di Afrika akan hanya menjadi mimpi belaka.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s